Kini Aktor Legendaris, Roy Marten Ungkap Pernah Jadi Gelandangan
September 18, 2020

Informasi Berita Indonesia dan Dunia Terupdate Hari Ini

Berita Indonesia dan Dunia hari ini, kabar terbaru terkini. Berita aktual, peristiwa, bisnis, bola, tekno, gosip, artis, viral, trending

Kini Aktor Legendaris, Roy Marten Ungkap Pernah Jadi Gelandangan di Jakarta

Aktor kawakan Roy Marten membuat pengakuan mengejutkan. Ternyata sebelum menjadi bintang "The Big Five", sebutan bagi 5 artis bayaran tertinggi tahun 1977

Seminarioaversa – Aktor kawakan Roy Marten membuat pengakuan mengejutkan. Ternyata sebelum menjadi bintang “The Big Five”, sebutan bagi 5 artis bayaran tertinggi tahun 1977, Roy mengaku pernah jadi gelandangan.

Mulia Situs Judi Online & Judi Bola Terpercaya di Indonesia

Ingin tahu kisah lengkap aktor legendaris Roy Marten yang pernah jadi gelandangan di Jakarta? Simak informasinya berikut ini.

Mengawali Karier Sebagai Model

Kali ini Roy Marten merasa bangga dan terhormat berada di channel YouTube Helmy Yahya Bicara. Roy menceritakan sepak terjangnya mengadu nasih di Jakarta. Mengawali karier dari Salatiga sebagai peragawan, hingga memenangkan beberapa perlombaan.

“Roy Marten dari Salatiga, dulu ngawali jadi model ya, catwalk?” tanya Helmy Yahya.

“Iya. Kepinginnya sih main film, cuma enggak tahu jalannya ketika itu. Film Indonesia saat itu sedang turun, jadi enggak tahu caranya, jadi pas ada yang ngajak visi. Jadi saya pikir ini jalannya,” jawab Roy.

Merasa Jadi Gelandangan

Kini Aktor Legendaris, Roy Marten Ungkap Pernah Jadi Gelandangan ...

Pertama kali hijrah ke Jakarta, Roy masih belum paham cara masuk ke dunia hiburan. Pria kelahiran 1 Maret 1952 itu merasa jadi gelandangan.

“Gelandangan, pertama kali masuk Jakarta. Tahun 72 usia dua puluh jadi gelandangan, host enggak bisa bayar. Jadi ketika ada kesempatan fashion, ya hanya untuk sekedar cari makan. Tapi gak ada bakat di sana,” ujar Roy.

Tidak Mampu Bayar Naik Bus

Sahabat Jadi 'Gelandangan' di Phuket, Roy Marten Merasa Bersalah

Sosok Roy yang mengaku layaknya anak jalanan di kota besar Jakarta. Sampai-sampai untuk naik bus dengan kocek 10 perak saja tak sanggup. Dia memilih mengajak duel untuk menyelesaikan masalah.

“Bung Roy mengatakan gelandangan. Segelandangan apa sih tahun 72?” tanya Helmy.

“Ya, kita naik bus waktu itu masih sepuluh perak. Waktu tinggal di Grogol, itu pun tidak bisa bayar. Ya sudah, ajak saja berantem,” papar Roy sembari tertawa.

Numpang Tinggal di Rumah Sawah

Sebagai seorang perantauan dari kampung, tanpa saudara di Jakarta, Roy memutuskan tinggal di tempat temannya. Dia tidur di rumah yang belum jadi di tengah sawah, supaya menghemat biaya hidup.

“Kemudian tinggal di satu, di Demak ada, Yayat namanya orang Pontianak. Itu di sawah, ada satu bangunan yang belum jadi saya tinggal di situ,” ucap Roy.

“Sekarang jadi Taman Anggrek. Di situ masih sawah, jadi kalau mau pergi sepatu mesti copot gitu, naik becak,” tambahnya.

Yakin Bisa Sukses di Indonesia

Kala itu saudara Roy Marten, memilih untuk ke luar negeri. Rudy Salam melanjutkan kuliah di Jerman, kakaknya lagi bernama Melani Kusuma tinggal di Belanda. Namun Roy yakin bahwa kesuksesannya ada di Tanah Air.

Hasil kerja kerasnya dalam waktu singkat bisa melambungkan namanya sebagai artis termahal di tahun 1977. Serta tercatat membintangi film terbanyak di sepanjang karier.

“Saya bilang, ‘Nggak sukses pasti di Indonesia. Kenapa? Bahasanya saya tahu, budayanya saya lebih hafal. Saya pikir, saya pasti lebih bisa berhasil di Indonesia dibanding kalau saya di luar,” tukas Roy.

Merasa Anak Busuk

Roy Marten merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Di antara seluruh saudaranya, dia mengaku bahwa dirinya hanyalah seorang ‘anak busuk. Begitu berbanding terbalik dengan kakak pertama, Rudy Salam yang ‘anak emas’ dan keren.