Riset Prediksi Jumlah Kasus COVID-19 di Indonesia 5 Kali Lebih Tinggi
November 27, 2020

Informasi Berita Indonesia dan Dunia Terupdate Hari Ini

Berita Indonesia dan Dunia hari ini, kabar terbaru terkini. Berita aktual, peristiwa, bisnis, bola, tekno, gosip, artis, viral, trending

Riset Prediksi Jumlah Kasus COVID-19 di Indonesia 5 Kali Lebih Tinggi

PMI

PMI menjadi Relawan untuk mengatasi virus corona

Jumlah pasien positif virus corona di Indonesia menyentuh 1.285 kasus. Sementara akumulasi kasus sembuh menjadi 64 orang dan 114 orang meninggal dunia.

Seminarioaversa – Jumlah pasien positif Covid-19 SARS-CoV-2 di Indonesia menyentuh angka 1.285 kasus per Minggu (29/3). Sementara akumulasi kasus sembuh menjadi 64 orang, serta 114 orang meninggal dunia.

Sejauh ini, titik terparah berada di DKI Jakarta sebagai pusat penyebaran virus. Dari laman corona. Jakarta.go.id per Minggu (29/3) pukul 08.00 WIB, jumlah positif COVID-19 di Jakarta naik jadi 701 kasus, dengan korban meninggal 67 orang. Begitu juga dengan pasien yang sembuh, bertambah jadi 48 orang.
Menyusul pengumuman data resmi yang terus di-update, Lembaga Riset Telematika asal Bandung, Sharing Vision, punya prediksi sendiri terkait jumlah aktual kasus COVID-19 di Indonesia. Ilmuwan Data Scientist Sharing Vision, Dr. Budi Sulistyo, mengatakan estimasi jumlah pasien yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 bisa mencapai lima kali lipat dari angka yang dirilis pemerintah.
Angka confirmed case pemerintah tanggal 22 Maret 2020 sebanyak 514 diprediksi sebenarnya kasus aktualnya 2.279 kasus, 23 Maret 2020 (579 confirmed/2.706 aktual), 24 Maret 2020 (686 confirmed/3.208 aktual), serta 25 Maret 2020 (790 confirmed/3.799 aktual).

Perbandingan Perkiraan Jumlah Terjangkit Aktual Dengan Confirmed Case

Angka tersebut didapat dari hasil simulasi model dinamika penyebaran virus dengan persamaan diferensi orde 30, non linier dengan umpan balik positif yang telah digunakan dalam memodelkan fenomena wabah COVID-19 di Indonesia. Simulasi perhitungan dilakukan Tim Data Scientist Sharing Vision pimpinan Dr. Budi Sulistyo, bermitra dengan dosen STEI ITB Kelompok Keahlian Kendali dan Komputer, Dr. Dimitri Mahayana, sejak imbauan physical distancing mulai diterapkan pada Senin (16/3).

Besok Ada Rapat Rencana Lockdown Jabodetabek, Dirjen Hubdat: Debat ...

Menurut Budi, salah satu asumsi yang digunakan sebagai parameter permodelan adalah asumsi delay dalam pengumuman confirmed case. Delay ini merupakan jeda waktu saat seorang berstatus suspect COVID-19 menjalani tes laboratorium, yang kemudian dinyatakan positif, hingga konfirmasi resmi pemerintah. Angka delay diasumsikan rata-rata tiga hari.


“Konfirmasi resmi pemerintah yang memasukkan orang tersebut ke dalam akumulasi total terjangkit. Semakin panjang delay aktual, maka semakin besar gap confirmed case yang diumumkan dengan kondisi aktual,” ujar Budi, dalam keterangan resminya.

Cegah Penyebaran Virus Corona,Petugas PMI Semprot Cairan ...

Pembawa Virus Corona Sulit Di Deteksi karena tanpa gejala

Sekitar 40 persen sampai 50 persen dari angka prediksi aktual ini diduga merupakan kelompok pasien positif yang hanya menampakkan gejala sangat ringan atau bahkan tanpa gejala sehingga sulit dideteksi. Sementara sebagian lainnya telah masuk daftar ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Di luar itu, kata dia, adalah mereka yang mengalami gejala ringan hingga menengah yang belum datang untuk berkonsultasi ke rumah sakit.

“Selain itu, deteksi terjangkit positif yang berlanjut isolasi diasumsikan hanya dapat menjaring 40 persen terjangkit setelah fase inkubasi (fase pertama yakni 7 hari pertama). Ini karena dalam masa inkubasi, peluang keberhasilan deteksi sangat rendah terhadap seseorang yang aktualnya telah terjangkit,” katanya.
Masa inkubasi memang memungkinkan seseorang yang terinfeksi tampak sehat tanpa menunjukkan satu pun gejala. Meski begitu, ia sudah bisa menularkan virus ke orang lain lewat kontak dekat dengan paparan droplet batuk dan bersin.

RK: Rapid Test Corona Tentukan Perpanjangan Belajar di Rumah
Seorang warga sedang melakukan rapid test. Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta

Karena sifat virus yang dapat menyebar tanpa memicu gejala, jaga jarak menjadi kunci yang penting dalam memutus rantai penularan. Siapa pun perlu waspada dengan menjaga jarak aman dengan orang lain karena bukan tidak mungkin seseorang yang nampak sehat. Sesungguhnya telah menjadi carrier atau pembawa virus.

“Ledakan kasus COVID-19 di China sebagian besar didorong oleh orang-orang dengan gejala ringan, terbatas, atau tanpa gejala yang terdeteksi. Bergantung pada penularan dan jumlahnya. Kasus yang tidak terdeteksi dapat mengekspos bagian yang jauh lebih besar populasi daripada yang seharusnya terjadi,” kata Jeffrey Shaman. Peneliti dari Mailman School of Public Health di Columbia University, dikutip Newsweek.
“Kami menemukan fakta tentang COVID-19 di China bahwa banyak individu yang terinfeksi ini ternyata tidak terdeteksi dan mampu menularkan. Transmisi tersembunyi ini akan terus hadir. Tantangan besar untuk penahanan wabah ini ke depan,” sambung Shaman.