Bergabung denagn Juventus, Arthur: Tantangan Besar Menunggu
September 23, 2020

Informasi Berita Indonesia dan Dunia Terupdate Hari Ini

Berita Indonesia dan Dunia hari ini, kabar terbaru terkini. Berita aktual, peristiwa, bisnis, bola, tekno, gosip, artis, viral, trending

Bergabung denagn Juventus, Arthur: Tantangan Besar Menunggu

Pemain Baru Juventus

Arthur Melo resmi pindah ke Juventus

Seminarioaversa – Gelandang Barcelona, Arthur Melo, resmi merapat ke Juventus pada bursa transfer musim panas 2020 nanti. Pihak Blaugrana –julukan Juventus– dikabarkan menyepakati biaya transfer sebesar 72 juta euro atau sekira Rp1,1 triliun untuk melepas sang pemain.

Dalam kesepakatan tersebut, Juventus juga melepas salah satu gelandangnya, yakni Miralem Pjanic ke Camp Nou. Arthur Melo sendiri sebelumnya bergabung dengan Barcelona pada musim panas 2018, setelah tampil apik bersama Gremio.

Namun, performanya di Barcelona kurang mengkilap. Penampilannya kerap diganggu cedera dan inkonsistensi. Kepindahannya ke Juventus juga ditandai sebuah unggahan sang pemain di akun Twitter pribadinya.

“Terima kasih atas minat besar dari @juventusfc dan untuk semua masyarakat yang memberikan dukungan. Ini adalah klub besar, akan ada banyak tantangan yang menunggu dengan Bianconeri,” tulis Arthur seperti dilansir akun twitter pribadinya.

Dengan keputusannya untuk berseragam Juventus, Arthur akan berada di bawah kepelatihan Maurizio Sarri. Gelandang asal Brasil itu diyakini akan sukses di klub barunya nanti lantaran dinilai cocok dengan gaya permainan yang diterapkan Sarri.

Akan tetapi, baik Arthur dan Pjanic baru bisa membela klub baru masing-masing mulai 2019/2020. Mereka masih akan bertahan di klub yang sekarang sampai berakhirnya kompetisi Liga Champions pada Agustus mendatang.

Arthur Melo Hanyalah Korban dari Kebijakan Transfer Barcelona yang Amburadul

Pertukaran pemain melibatkan dua pemain yang sama-sama beroperasi di sektor tengah, Miralem Pjanic dan Arthur Melo. Banyak yang meyakini kalau Juventus diuntungkan dalam proses pertukaran ini.

Bagaimana tidak, mereka berhasil menyingkirkan Pjanic yang sudah mencapai usia 30 tahun. Lebih dari itu, Juventus juga mendapatkan Arthur yang berusia lebih muda dan diklaim memiliki potensi besar dalam dirinya.

Kok bisa, pemain sepert Arthur yang diklaim memiliki gaya bermain seperti Xavi Hernandez, dilepas begitu saja oleh Barcelona? Mungkin, Arthur merupakan salah satu korban dari bobroknya kebijakan transfer Barcelona.

Buruknya Kebijakan Transfer Barcelona

Sejak kepergian Neymar pada tahun 2017, Barcelona kerap bertindak sembrono dan terburu-buru di bursa transfer. Mereka pun tidak mempertimbangkan prospek jangka panjang dan hanya fokus mendatangkan bintang.

Perekrutan Ousmane Dembele dan Philippe Coutinho mungkin bisa dimaklumi, sebab Barcelona membutuhkan pengganti Neymar dengan segera. Namun beberapa rekrutan mereka lainnya berada dalam taraf mengecewakan.

Kebanyakan dari rekrutan mereka dimainkan pada sektor yang berbeda dari aslinya. Tengok saja Paco Alcacer serta Andre Gomes. Paco Alcacer dikenal sebagai seorang striker haus gol yang kerjanya menanti di kotak penalti.

Namun oleh Barcelona, pria berkebangsaan Spanyol itu justru dimainkan sebagai seorang winger. Ia juga seringkali terpinggirkan walau dalam beberapa kesempatan sukses menunjukkan performa yang gemilang.

Ia kerap dimainkan dalam laga-laga yang tak begitu penting guna mengistirahatkan Luis Suarez. Jelas, Liga Champions tak masuk dalam hitungan. Anehnya, saat tersingkir dari Liga Champions, Barcelona justru berlindung di belakang alasan ‘pemain kunci sedang kelelahan’.

Lalu ada Andre Gomes, pemain yang sejatinya beroperasi di sektor tengah sebagai gelandang bertahan. Ia kehilangan kepercayaan dirinya setelah dimainkan sebagai bek sayap.

Kedua pemain ini sedang menikmati kesuksesannya selepas dari Barcelona. Paco Alcacer memecahkan serangkaian rekor di Borussia Dortmund, sementara Andre Gomes menjadi pemain penting di Everton.

Masalah ini juga dialami Antoine Griezmann, yang direkrut dari Atletico Madrid seharga 120 juta euro. Pemain berdarah Prancis itu lebih familiar dengan formasi dua striker. Namun di Barcelona, ia bermain sebagai penyerang sayap dalam formasi 4-3-3.

Posisi Griezmann pun kerap berganti-ganti. Ia pernah jadi winger, penyerang tengah, atau bahkan gelandang serang. Namun ia justru mencatatkan statistik apik kala mengejar pemain lawan dan membantu lini belakang.

Pada akhirnya, Barcelona hanya merekrut pemain yang diinginkan. Bukan yang mereka butuhkan.